Selasa, 20 Desember 2016

Essay Beasiswa Spesialis LPDP



Kontribusiku Bagi Indonesia
“Jangan tanya apa yang negara berikan pada kalian,tetapi tanyalah apa yang kalian berikan untuk negara”. Itulah sebuah aksioma klasiknyanya J.F.Kennedy yang ditanamkan oleh salah seorang pembina OSIS saat melantik saya sebagai Ketua OSIS di SMA dulu. Sampai sekarang kalimat tersebut terus tumbuh bermekaran menjadi energi dan motivasi yang senantiasa meneguhkan semangat untuk terus mengabdi kepada pertiwi. Kalimat yang terus mengingatkan dan menyadarkan saya dalam kelenaan nikmatnya rasa nyaman, dalam kemalasan untuk bergerak, dalam kelalaian untuk berkarya dan berbuat. Kalimat yang terus mendorong untuk terus melatih diri, mendahsyatkan segala potensi agar bisa memberikan kontibusi optimal pada negeri.
Sebaik–baik manusia adalah mereka yang bermanfaat untuk orang lain. Itu pesan masa kecil yang terus memberikan kekuatan untuk terus berkarya dan menebar manfaat. Pesan masa kecil itu pada akhirnya saya rumuskan dalam sebuah visi hidup : Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum.
Ditengah banyaknya keterbatasan, Saya menyadari bahwa barangkali bukan hal-hal besar yang bisa saya lakukan kepada bangsa ini. Mungkin bukan ragam mahakarya yang akan membuat banyak mata berdecak kagum dan terpesona. Bisa jadi hanyalah hal–hal kecil yang luput dari pandangan banyak mata, yang justru terkadang terkesan faqir makna bagi sebagian orang. Tapi semangat yang menggelora selalu memantapkan hati saya bahwasanya sebuah istana peradaban tidak terhadir begitu saja. Dia dibangun dari kepingan batu bata dan kerikil-kerikil perjuangan. Kepingan-kepingan kecil yang akan saling bertautan menghasilkan makna yang lebih besar.
Salah satu peran pemuda dalam mengisi kemerdekaan adalah dengan menuntut ilmu sungguh-sungguh. Dan itulah salah satu kontribusi awal yang saya lakukan. Bisa menyelesaikan pendidikan formal dari sekolah dasar sampai pendidikan dokter dengan lancar dan dengan hasil yang senantiasa gemilang, Alhamdulillah. Disamping itu, disetiap fase pendidikan, saya selalu mengikuti beragam jenis dan tingkatan organisasi. Karena menurut saya bangsa ini tidak hanya butuh generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga emosional dan spiritual. Dan organisasi adalah salah satu tempat untuk melatihnya.
Fokus ilmu dirumpun kesehatan telah membukakan kesempatan lebar bagi saya untuk mengabdi kepada negeri. Beragam acara berbasis masyarakat sering kita lakukan. Seperti kegiatan bakti sosial tahunan berupa pengobatan, sunatan masal, relawan dalam pemulihan daerah-daerah pasca bencana seperti gempa Sumatera Barat tahun 2009, membina panti asuhan, kegiatan safari ramadhan berupa kampanye dan promosi hidup sehat serta beragam kegiatan berorientasi masyarakat lainnya.
Saat menjalani program internsip dari Kementrian Kesehatan RI saya memutuskan untuk mengabdi di salah satu Daerah Terpencil Perbatasan Kepulauan (DTPK). Alhamdulillah Allah tempatkan di Kepulauan Natuna yang merupakan pulau perbatasan paling utara Indonesia. Banyak hikmah yang bisa saya ambil di Natuna. Setidaknya satu fakta menguatkan semangat garuda dan darah merah putih saya untuk berbuat banyak di Natuna. Fakta bahwasanya kehidupan mereka tidaklah seberuntung masyarakat kota. Terbatasnya akses pendidikan, transportasi dan kesehatan. Kurang stabilnya ketersediaan kebutuhan primer dan sekunder yang terkadang juga dengan harga yang tinggi. Dinamika sosial dan perpolitikan dengan sekelumit permasalahannya. Dan bahkan semangat nasionalisme yang untuk sebagian penduduk masih relatif rapuh.
Selama di Natuna, disamping aktif dalam masalah kesehatan, Saya berkesempatan menjadi guru bimbingan belajar SD, SMP dan SMA. Beragam kegiatan pembinaan karakter juga sering dilakukan. Menjadi penceramah agama di masjid dan taklim masyarakat juga saya lakoni hingga menjadi salah satu narasumber tetap untuk taujih harian Ramadhan di RRI Natuna. Saya juga masuk ke beberapa komunitas masyarakat, seperti klub sepeda. Lewat klub sepeda kita coba kampanyekan rasa cinta akan keindahan negeri. Momentum yang tidak terlupakan adalah saat peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-70, bekerjasama dengan pemerintahan kabupaten Natuna dan TNI AL, kita bangkitkan semangat kebangsaan dengan kegiatan pengibaran bendera merah putih raksasa di puncak tertinggi perbatasan paling utara Indonesia itu. Sebagai penutup masa internsip, kami dokter internsip berhasil melakukan perjalanan laut mengunjungi 6 pulau selama 15 hari untuk kegiatan bakti sosial dan pengobatan gratis.
Keajaiban tekad dan perjuangan akan mengantarkan makhluk yang bernama manusia itu tidak hanya sebatas seonggok daging yang diberi nama. Saya yakin dan percaya bahwa saya adalah bagian dari generasi bangsa yang akan menentukan wajah bangsa ini kedepan. Tidak berlebihan, seluruh jiwa dan raga ini telah saya serahkan untuk Ibu pertiwi. Untuk tanah yang lewatnya Allah berikan kesempatan kepada saya untuk lahir dan bertumbuh kembang disini. Sekarang dan untuk masa yang akan datang, cita-cita saya masih satu : Mari kita buat Indonesia tersenyum !. Seminimal-minimalnya dalam bidang keilmuan saya : Kedokteran. Semangat generasi muda bangsa. Semangat berkarya dan menyejarah.

3 komentar:

  1. Masya Allah tulisannya inspiratif sekali mas..terimakasih mas sudah bersedia share tulisan kerennya. Mari kita buat Indonesia tersenyum! Senyum yang manis pastinya yg kita harapkan..aamiin :)

    BalasHapus
  2. Masya Allah tulisannya inspiratif sekali mas..terimakasih mas sudah bersedia share tulisan kerennya. Mari kita buat Indonesia tersenyum! Senyum yang manis pastinya yg kita harapkan..aamiin :)

    BalasHapus
  3. Roulette, Roulette, and Baccarat by Oddschecker
    Roulette and Baccarat by Oddschecker is an online roulette 카지노사이트luckclub game on Oddschecker. The game is played by four people, which means that there are 13 possible outcomes: 1.

    BalasHapus