Kontribusiku Bagi Indonesia
“Jangan
tanya apa yang negara berikan pada kalian,tetapi tanyalah apa yang kalian
berikan untuk negara”. Itulah sebuah aksioma klasiknyanya J.F.Kennedy yang ditanamkan
oleh salah seorang pembina OSIS saat melantik saya sebagai Ketua OSIS di SMA
dulu. Sampai sekarang kalimat tersebut terus tumbuh bermekaran menjadi energi
dan motivasi yang senantiasa meneguhkan semangat untuk terus mengabdi kepada
pertiwi. Kalimat yang terus mengingatkan dan menyadarkan saya dalam kelenaan
nikmatnya rasa nyaman, dalam kemalasan untuk bergerak, dalam kelalaian untuk
berkarya dan berbuat. Kalimat yang terus mendorong untuk terus melatih diri,
mendahsyatkan segala potensi agar bisa memberikan kontibusi optimal pada
negeri.
Sebaik–baik
manusia adalah mereka yang bermanfaat untuk orang lain. Itu pesan masa kecil
yang terus memberikan kekuatan untuk terus berkarya dan menebar manfaat. Pesan
masa kecil itu pada akhirnya saya rumuskan dalam sebuah visi hidup : Mari Kita
Buat Indonesia Tersenyum.
Ditengah
banyaknya keterbatasan, Saya menyadari bahwa barangkali bukan hal-hal besar
yang bisa saya lakukan kepada bangsa ini. Mungkin bukan ragam mahakarya yang
akan membuat banyak mata berdecak kagum dan terpesona. Bisa jadi hanyalah hal–hal
kecil yang luput dari pandangan banyak mata, yang justru terkadang terkesan
faqir makna bagi sebagian orang. Tapi semangat yang menggelora selalu memantapkan
hati saya bahwasanya sebuah istana peradaban tidak terhadir begitu saja. Dia dibangun
dari kepingan batu bata dan kerikil-kerikil perjuangan. Kepingan-kepingan kecil
yang akan saling bertautan menghasilkan makna yang lebih besar.
Salah
satu peran pemuda dalam mengisi kemerdekaan adalah dengan menuntut ilmu
sungguh-sungguh. Dan itulah salah satu kontribusi awal yang saya lakukan. Bisa
menyelesaikan pendidikan formal dari sekolah dasar sampai pendidikan dokter
dengan lancar dan dengan hasil yang senantiasa gemilang, Alhamdulillah. Disamping
itu, disetiap fase pendidikan, saya selalu mengikuti beragam jenis dan tingkatan
organisasi. Karena menurut saya bangsa ini tidak hanya butuh generasi yang
cerdas secara intelektual, tetapi juga emosional dan spiritual. Dan organisasi
adalah salah satu tempat untuk melatihnya.
Fokus
ilmu dirumpun kesehatan telah membukakan kesempatan lebar bagi saya untuk mengabdi
kepada negeri. Beragam acara berbasis masyarakat sering kita lakukan. Seperti
kegiatan bakti sosial tahunan berupa pengobatan, sunatan masal, relawan dalam
pemulihan daerah-daerah pasca bencana seperti gempa Sumatera Barat tahun 2009,
membina panti asuhan, kegiatan safari ramadhan berupa kampanye dan promosi
hidup sehat serta beragam kegiatan berorientasi masyarakat lainnya.
Saat
menjalani program internsip dari Kementrian Kesehatan RI saya memutuskan untuk
mengabdi di salah satu Daerah Terpencil Perbatasan Kepulauan (DTPK).
Alhamdulillah Allah tempatkan di Kepulauan Natuna yang merupakan pulau
perbatasan paling utara Indonesia. Banyak hikmah yang bisa saya ambil di Natuna.
Setidaknya satu fakta menguatkan semangat garuda dan darah merah putih saya
untuk berbuat banyak di Natuna. Fakta bahwasanya kehidupan mereka tidaklah
seberuntung masyarakat kota. Terbatasnya akses pendidikan, transportasi dan kesehatan.
Kurang stabilnya ketersediaan kebutuhan primer dan sekunder yang terkadang juga
dengan harga yang tinggi. Dinamika sosial dan perpolitikan dengan sekelumit
permasalahannya. Dan bahkan semangat nasionalisme yang untuk sebagian penduduk
masih relatif rapuh.
Selama
di Natuna, disamping aktif dalam masalah kesehatan, Saya berkesempatan menjadi
guru bimbingan belajar SD, SMP dan SMA. Beragam kegiatan pembinaan karakter
juga sering dilakukan. Menjadi penceramah agama di masjid dan taklim masyarakat
juga saya lakoni hingga menjadi salah satu narasumber tetap untuk taujih harian
Ramadhan di RRI Natuna. Saya juga masuk ke beberapa komunitas masyarakat, seperti
klub sepeda. Lewat klub sepeda kita coba kampanyekan rasa cinta akan keindahan
negeri. Momentum yang tidak terlupakan adalah saat peringatan HUT Kemerdekaan
RI ke-70, bekerjasama dengan pemerintahan kabupaten Natuna dan TNI AL, kita
bangkitkan semangat kebangsaan dengan kegiatan pengibaran bendera merah putih
raksasa di puncak tertinggi perbatasan paling utara Indonesia itu. Sebagai penutup
masa internsip, kami dokter internsip berhasil melakukan perjalanan laut
mengunjungi 6 pulau selama 15 hari untuk kegiatan bakti sosial dan pengobatan
gratis.
Keajaiban
tekad dan perjuangan akan mengantarkan makhluk yang bernama manusia itu tidak
hanya sebatas seonggok daging yang diberi nama. Saya yakin dan percaya bahwa
saya adalah bagian dari generasi bangsa yang akan menentukan wajah bangsa ini
kedepan. Tidak berlebihan, seluruh jiwa dan raga ini telah saya serahkan untuk
Ibu pertiwi. Untuk tanah yang lewatnya Allah berikan kesempatan kepada saya
untuk lahir dan bertumbuh kembang disini. Sekarang dan untuk masa yang akan
datang, cita-cita saya masih satu : Mari kita buat Indonesia tersenyum !.
Seminimal-minimalnya dalam bidang keilmuan saya : Kedokteran. Semangat generasi
muda bangsa. Semangat berkarya dan menyejarah.

Masya Allah tulisannya inspiratif sekali mas..terimakasih mas sudah bersedia share tulisan kerennya. Mari kita buat Indonesia tersenyum! Senyum yang manis pastinya yg kita harapkan..aamiin :)
BalasHapusMasya Allah tulisannya inspiratif sekali mas..terimakasih mas sudah bersedia share tulisan kerennya. Mari kita buat Indonesia tersenyum! Senyum yang manis pastinya yg kita harapkan..aamiin :)
BalasHapusRoulette, Roulette, and Baccarat by Oddschecker
BalasHapusRoulette and Baccarat by Oddschecker is an online roulette 카지노사이트luckclub game on Oddschecker. The game is played by four people, which means that there are 13 possible outcomes: 1.