Selasa, 20 Desember 2016

Rencana Studi Spesialis Beasiswa LPDP



RENCANA STUDI
PELAMAR BEASISWA PENDIDIKAN INDONESIA DOKTER SPESIALIS

1.Latar Belakang dan Rencana Studi
            Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kematian terbesar di dunia saat ini disebabkan oleh penyakit jantung dan pembuluh darah. Pada tahun 2002, sepertiga kematian di dunia disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler. Penyakit kardiovaskuler bisa disebabkan oleh kelainan bawaan, infeksi, kelainan anatomik, metabolik dan proses degeneratif. Di Indonesia penyakit Kardiovaskuler menempati urutan pertama penyakit terbanyak dan juga menjadi penyakit pembunuh nomor satu.
Sebagai salah satu provinsi di Indonesia, Sumatera Barat juga merepresentasikan angka yang sama akan tingginya kasus penyakit Kardiovaskuler. Dalam bidang bedah thorak kardiovaskuler, kelainan kardiovaskuler yang sering ditemukan di Sumatera Barat diantaranya adalah kelainan jantung bawaan pada anak, penyakit jantung rematik dan penyakit katub jantung. Sampai saat ini, banyak pasien dari Sumatera Barat yang pelayanan bedah thorak kardiovaskulernya masih belum bisa dilakukan di Padang, RSUP DR. M . Djamil. Sehingga pasien yang idealnya mendapatkan layanan tersebut, harus dirujuk ke layanan yang lebih memadai seperti RS. Harapan Kita ataupun RSCM  Jakarta. Keterbatasan sumber daya manusia menjadi salah satu alasan utama banyaknya pasien dari Sumatera Barat yang harus dirujuk ke luar.
Saat ini di Sumatera Barat hanya ada satu orang dokter spesialis bedah thorak kardiovaskuler. Banyaknya pasien yang harus dirujuk keluar, secara tidak langsung berdampak besar pada permasalahan ekonomi. Terutama ekonomi pasien yang bersangkutan dan keluarga. Disamping itu rumah sakit seperti Harapan Kita tidak hanya menampung pasien dari Sumatera Barat saja, akan tetapi dari seluruh Indonesia. Sehingga tidak jarang jika pasien yang dirujuk harus menunggu antrian layanan terlebih dahulu, yang bahkan terkadang dalam hitungan waktu tunggu yang relatif lama.
            Berdasarkan fakta tersebut, saya berkemauan kuat untuk terlibat aktif dalam bedah thorak kardiovaskuler. Saya berharap bisa menjadi salah satu bagian untuk menyelesaikan permasalahan kronis ini, sehingga pasien tidak lagi harus dirujuk ke luar Sumatera Barat untuk mendapatkan layanan yang ideal.
            Disamping itu, kurangnya dokter spesialis tersebut di Sumatera Barat juga berdampak kepada dunia pendidikan kedokteran, yaitu kurangnya tenaga pengajar dalam bidang ini yang berakibat pada minimnya transfer ilmu. Universitas Andalas sebagai satu-satunya institusi pendidikan kedokteran negeri di Sumatera Barat, merasakan dampak tersebut. Oleh karena itu, saya juga berharap bisa ikut terlibat aktif menyelesaikan permasalah ini dengan berusaha menjadi salah satu akademisi/staff pengajar yang akan melakukan transfer ilmu kepada generasi selanjutnya.

2. Program Studi
Program studi yang saya ajukan adalah Spesialis Bedah Thorak Kardiovaskuler, dengan rincian program studi berupa :
Institusi penyelenggara
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Lokasi
Lama  pendidikan
Jakarta
11 Semester
Gelar
Sp.BTKV

3. Waktu Pelaksanaan Studi
Waktu pelaksanaan studi direncanakan mulai Januari 2017 (semester genap). Dengan pendaftaran program spesialis Bedah Thorak Kardiovaskuler FK UI bulan Oktober 2016.

4. Kegiatan Pembelajaran
Proses pendidikan terdiri atas 3 tahapan:
·         Tahap pertama (program magister) selama 1 semester. Kegiatan berupa studi literatur, tutorial, journal reading dan kuliah umum.
·         Tahap kedua (Bedah Umum dan Thorak Kardiovaskuler dasar) selama 2 semester. Kegiatan berupa jaga IGD, ruang rawatan, poliklinik, case report dan journal reading
·         Tahap ketiga (Bedah Thorak Kardiovaskuler lanjut) selama 8 semester, dibagi atas 4 tahapan, yaitu:
o   Bedah Thorak Kardiovaskuler Dewasa I
o   Bedah Thorak Kardiovaskuler Anak I
o   Bedah Thorak Kardiovaskuler Dewasa II
o   Bedah Thorak Kardiovaskuler Anak II
Proses pembelajaran dilakukan dalam bentuk kegiatan ilmiah, bimbingan langsung pengelolaan pasien (Kamar operasi, ruangan ICU, poliklinik dan ruang rawatan) serta  kegiatan dokter jaga IGD maupun ruang rawatan.


5. Rencana Anggaran Biaya
Program Studi :
1.      Admission fee                      : Rp. 16.000.000
2.      SPP                                      : Rp.   7.000.000
3.      Surgicial Telescope              : Rp. 18.000.000
4.      Ujian Kognitif                     : Rp.   5.000.000
5.      Ujian Board                         : Rp. 10.000.000
6.      Tesis                                     : at cost
7.      Seminar                                : at cost
Tambahan :
1.      Buku/semester                        : Rp   6.000.000
2.      Living expenses/semester       : Rp 24.000.000

6.Rencana Pasca Studi
Setelah menyelesaikan studi saya berencana mengabdikan ilmu tidak hanya sebatas praktisi kesehatan khususnya bedah thorak kardiovaskuler saja, melainkan juga bisa menjadi akademisi yang bisa mewariskan ilmu kepada generasi selanjutnya. Saya berusaha agar bisa terlibat di salah satu institusi pendidikan kedokteran Indonesia sebagai staff pengajar. Karena menurut saya, salah satu investasi terbaik yang bisa kita berikan untuk kemajuan bangsa adalah melalui pendidikan. Dengan menjadi akademisi saya berpikir, saya bisa semakin mengoptimalkan segala potensi yang dimiliki untuk kemajuan bangsa. Untuk kemajuan tanah yang telah mengizinkan saya lahir dan bertumbuh kembang diatasnya, Indonesia.

Essay Beasiswa Spesialis LPDP Sukses Terbesar



Sukses Terbesar dalam Hidupku


Setiap orang memiliki definisi yang berbeda tentang arti kesuksesan. Ada yang  mengaitkannya dengan pencapaian materi, jabatan dan mungkin popularitas. Tidak ada yang salah tentang ragam paradigma sukses tersebut. Akan tetapi hati kecil saya merumuskan kesuksesan dalam definisi yang berbeda. Menurut saya, jika jabatan adalah sebuah kesuksesan, maka Fir’aun bisa dikategorikan sebagai manusia paling sukses, karena semua orang di masanya begitu mendewakannya, hingga menganggapnya sebagai Tuhan. Akan tetapi jabatan tinggi itu yang pada akhirnya menjadi cikal bakal kehancuran Fir’aun hingga menenggelamkannya ke dasar Laut Merah. Jika sekiranya harta yang melimpah adalah lambang kesuksesan, maka menurut saya Qarun adalah manusia paling sukses sepanjang sejarah manusia. Jumlah hartanya tak terhitung banyaknya. Tapi kemelimpahan harta telah menuntun Qarun menjadi orang yang sombong hingga menenggelamkannya ke dalam tanah beserta harta-hartanya. Dan jika sekiranya popularitas adalah kesuksesan paling berharga, maka bisa jadi Michael Jackson adalah salah satu nominatornya. Akan tetapi sejarah juga merekam dengan apik akhir cerita dari artis papan atas dunia tersebut. Beliau menutup karirnya dengan kisah yang kurang sedap kita cerna.
Bagi saya sukses itu adalah saat dimana saya bisa memberikan manfaat kepada orang lain. Saat dimana saya mampu melukis senyuman orang-orang sekitar. Sederhananya definisi sukses itu saya formulasikan dalam sebuah cita-cita :  “Mari kita buat Indonesia tersenyum”. Sekalipun itu hanya ide dan aksi yang faqir makna dan apresiasi, tapi jika mampu berkontribusi untuk senyuman Ibu Pertiwi, itulah kesuksesan yang saya pahami.
Salah satu pencapaian yang saya nilai sebagai kesuksesan terbesar yang pernah saya raih adalah bisa menjalani kegiatan internsip di pulau perbatasan paling utara bumi Khatulistiwa. Kegiatan internsip merupakan sebuah kegiatan yang diselenggarkan oleh Kementrian Kesehatan RI sebagai sebuah tahapan yang harus dilalui oleh setiap fresh graduates dokter Indonesia untuk meningkatkan keterampilan medis. Pada program internsip setiap dokter yang telah lulus uji kompetensi lebih diutamakan untuk menjalani kegiatan internsip di provinsi asal universitasnya, namun juga diberikan kesempatan jika ingin menjalaninya di luar itu. Maka dengan semangat garuda dan darah merah putih, saya memantapkan hati untuk mengabdi di Daerah Terpencil Perbatasan dan Kepulauan (DTPK). Alhamdulillah Allah mengabulkan doa tersebut dengan memberikan kesempatan mengabdi di Kepulauan Natuna.
Selama di Natuna saya bisa menyaksikan dengan dekat dinamika kehidupan perbatasan Ibu Pertiwi. Tentang pendidikan mereka, tentang kesehatan, sosialekonomi, agama, budaya, nasionalisme, hukum, keamanan dan dimensi lainnya. Kesimpulannya adalah bahwa mereka tidak seberuntung masyarakat kota. Terbatasnya akses pendidikan, layanan kesehatan dan mobilitas. Kurang tercukupinya kebutuhan pangan dan sandang serta harganya yang relatif tinggi. Belum lagi masalah nasionalisme yang untuk sebagian penduduk masih relatif labil, yang menurut mereka bergabung ke negara tetangga terasa akan lebih sejahtera.
Walau bukanlah perubahan—perubahan besar, tapi saya yakin bahwa sekecil apapun ide dan perbuatan, tetap saja dia adalah kepingan kerikil yang memiliki peran dalam menyusun rumah peradaban. Alhamdulillah selama internsip Allah berikan kesempatan untuk bisa menebar banyak manfaat di Natuna. Selain terlibat aktif dalam berbagai kegiatan kesehatan, saya juga menjadi guru bimbingan belajar  SD, SMP dan SMA serta sering melakukan kegiatan pembinaan karakter kepada pemuda disana. Menurut saya investasi terbaik untuk generasi bangsa ini adalah pendidikan/ilmu pengetahuan. Maka dengan segala keterbatasan, saya selalu berusaha agar bisa berkontribusi aktif dalam dunia pendidikan. Menjadi penceramah agama di beberapa masjid di Natuna juga saya lakoni dan bahkan saat Ramadhan diberikan kesempatan menjadi salah seorang narasumber tetap pemberi taujih harian menunggu waktu berbuka puasa di RRI Natuna. Untuk meningkatkan semangat kebangsaan masyarakat, saya juga aktif dibeberapa kegiatan masyarakat, salah satunya adalah club sepeda. Lewat klub sepeda ini kita mencoba membangun kecintaan akan keindahan negeri. Dalam rangka HUT kemerdekaan RI ke-70 saya dipercaya memikul bendera Merah Putih raksasa dan mengibarkannya di puncak tertinggi perbatasan paling utara bumi khatulistiwa – Puncak Gunung Ranai, Kepulauan Natuna. Kegiatan ini didukung dan dilepas langsung keberangkatannya oleh Komandan Pangkalan Militer TNI AL Natuna beserta Bupati Natuna dan jajarannya.
Banyak hal yang ingin saya tuliskan disini. Akan tetapi karena keterbatasan penulisan, cukuplah semuanya saya simpulkan dengan ucapan terimakasih. Terimakasih kepada rakyat Natuna karena telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menyapa dan berinteraksi lebih dekat. Bagi saya, sukses terbesar adalah saat diri ini bisa bermanfaat bagi orang lain. Saat saya mampu melukis senyuman orang sekitar. Wahai generasi muda. Salam semangat dan perjuangan untuk kita semua. Kelak, bangsa ini akan semakin sadar bahwa kita adalah bagian dari generasi yang dinanti-nantikan. Merdeka...!!!. Jaya Indonesia....!.




Essay Beasiswa Spesialis LPDP



Kontribusiku Bagi Indonesia
“Jangan tanya apa yang negara berikan pada kalian,tetapi tanyalah apa yang kalian berikan untuk negara”. Itulah sebuah aksioma klasiknyanya J.F.Kennedy yang ditanamkan oleh salah seorang pembina OSIS saat melantik saya sebagai Ketua OSIS di SMA dulu. Sampai sekarang kalimat tersebut terus tumbuh bermekaran menjadi energi dan motivasi yang senantiasa meneguhkan semangat untuk terus mengabdi kepada pertiwi. Kalimat yang terus mengingatkan dan menyadarkan saya dalam kelenaan nikmatnya rasa nyaman, dalam kemalasan untuk bergerak, dalam kelalaian untuk berkarya dan berbuat. Kalimat yang terus mendorong untuk terus melatih diri, mendahsyatkan segala potensi agar bisa memberikan kontibusi optimal pada negeri.
Sebaik–baik manusia adalah mereka yang bermanfaat untuk orang lain. Itu pesan masa kecil yang terus memberikan kekuatan untuk terus berkarya dan menebar manfaat. Pesan masa kecil itu pada akhirnya saya rumuskan dalam sebuah visi hidup : Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum.
Ditengah banyaknya keterbatasan, Saya menyadari bahwa barangkali bukan hal-hal besar yang bisa saya lakukan kepada bangsa ini. Mungkin bukan ragam mahakarya yang akan membuat banyak mata berdecak kagum dan terpesona. Bisa jadi hanyalah hal–hal kecil yang luput dari pandangan banyak mata, yang justru terkadang terkesan faqir makna bagi sebagian orang. Tapi semangat yang menggelora selalu memantapkan hati saya bahwasanya sebuah istana peradaban tidak terhadir begitu saja. Dia dibangun dari kepingan batu bata dan kerikil-kerikil perjuangan. Kepingan-kepingan kecil yang akan saling bertautan menghasilkan makna yang lebih besar.
Salah satu peran pemuda dalam mengisi kemerdekaan adalah dengan menuntut ilmu sungguh-sungguh. Dan itulah salah satu kontribusi awal yang saya lakukan. Bisa menyelesaikan pendidikan formal dari sekolah dasar sampai pendidikan dokter dengan lancar dan dengan hasil yang senantiasa gemilang, Alhamdulillah. Disamping itu, disetiap fase pendidikan, saya selalu mengikuti beragam jenis dan tingkatan organisasi. Karena menurut saya bangsa ini tidak hanya butuh generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga emosional dan spiritual. Dan organisasi adalah salah satu tempat untuk melatihnya.
Fokus ilmu dirumpun kesehatan telah membukakan kesempatan lebar bagi saya untuk mengabdi kepada negeri. Beragam acara berbasis masyarakat sering kita lakukan. Seperti kegiatan bakti sosial tahunan berupa pengobatan, sunatan masal, relawan dalam pemulihan daerah-daerah pasca bencana seperti gempa Sumatera Barat tahun 2009, membina panti asuhan, kegiatan safari ramadhan berupa kampanye dan promosi hidup sehat serta beragam kegiatan berorientasi masyarakat lainnya.
Saat menjalani program internsip dari Kementrian Kesehatan RI saya memutuskan untuk mengabdi di salah satu Daerah Terpencil Perbatasan Kepulauan (DTPK). Alhamdulillah Allah tempatkan di Kepulauan Natuna yang merupakan pulau perbatasan paling utara Indonesia. Banyak hikmah yang bisa saya ambil di Natuna. Setidaknya satu fakta menguatkan semangat garuda dan darah merah putih saya untuk berbuat banyak di Natuna. Fakta bahwasanya kehidupan mereka tidaklah seberuntung masyarakat kota. Terbatasnya akses pendidikan, transportasi dan kesehatan. Kurang stabilnya ketersediaan kebutuhan primer dan sekunder yang terkadang juga dengan harga yang tinggi. Dinamika sosial dan perpolitikan dengan sekelumit permasalahannya. Dan bahkan semangat nasionalisme yang untuk sebagian penduduk masih relatif rapuh.
Selama di Natuna, disamping aktif dalam masalah kesehatan, Saya berkesempatan menjadi guru bimbingan belajar SD, SMP dan SMA. Beragam kegiatan pembinaan karakter juga sering dilakukan. Menjadi penceramah agama di masjid dan taklim masyarakat juga saya lakoni hingga menjadi salah satu narasumber tetap untuk taujih harian Ramadhan di RRI Natuna. Saya juga masuk ke beberapa komunitas masyarakat, seperti klub sepeda. Lewat klub sepeda kita coba kampanyekan rasa cinta akan keindahan negeri. Momentum yang tidak terlupakan adalah saat peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-70, bekerjasama dengan pemerintahan kabupaten Natuna dan TNI AL, kita bangkitkan semangat kebangsaan dengan kegiatan pengibaran bendera merah putih raksasa di puncak tertinggi perbatasan paling utara Indonesia itu. Sebagai penutup masa internsip, kami dokter internsip berhasil melakukan perjalanan laut mengunjungi 6 pulau selama 15 hari untuk kegiatan bakti sosial dan pengobatan gratis.
Keajaiban tekad dan perjuangan akan mengantarkan makhluk yang bernama manusia itu tidak hanya sebatas seonggok daging yang diberi nama. Saya yakin dan percaya bahwa saya adalah bagian dari generasi bangsa yang akan menentukan wajah bangsa ini kedepan. Tidak berlebihan, seluruh jiwa dan raga ini telah saya serahkan untuk Ibu pertiwi. Untuk tanah yang lewatnya Allah berikan kesempatan kepada saya untuk lahir dan bertumbuh kembang disini. Sekarang dan untuk masa yang akan datang, cita-cita saya masih satu : Mari kita buat Indonesia tersenyum !. Seminimal-minimalnya dalam bidang keilmuan saya : Kedokteran. Semangat generasi muda bangsa. Semangat berkarya dan menyejarah.